06 August 2011

FA-2 Sea Harrier


Pengembangan pesawat revolusioner Harrier “jump jet” dimulai awal 1960-an. Di masa-masa itulah para perencana Inggris mulai melihat keuntungan dari pesawat yang lepas landas dengan cara vertical.
Kemampuan ini bisa mengurangi ketergantungan terhadap landasan dan kapal induk yang besar dan mahal. Harrier dirancang untuk pesawat serbu intai.Pesawat Harrier merupakan hasil evolusi dari Hawker P. 1127/Kestrel melaluiserangkaian peristiwa kebetulan. Meskipun memiliki sejumlah keterbatasan dalam hal performa, jangkauan, dan kemampuan tempur, pesawat yang dihasilkan terbukti bermanfaat dan menjadi aset penting bagi AU Inggris dan Korps Marinir AS.
Harrier merupakan satu- satunya pesawat jet yang betul-betul dioperasikan secara V/STOL (Vertical/Short Take Off and Landing). Pesawat VTOL ini mendapatkan tenaganya dari satu mesin dengan empat nozzles yang bisa berputar. Nozzle inilah yang memungkinkan Harrier untuk bisa beroperasi dari mana saja. Mulai dari kapal induk, lapangan terbang, hingga lapangan terbuka dengan sedikit ruang untuk bermanuver.
Potensi pengoperasian Harrier di laut sudah dipahami saat Harrier GR. I dan GR.3 AU Inggris mulai beroperasi. Di sisi lain program AL mengalami banyak penundaan karena alasan politis. Baru setelah 1975, proyek Sea Harrier akhirnya disetujui.
Sea Harrier atau biasa disebut Shars, sebagian besar berbasis Harrier GR.3 dengan beberapa modifikasi. Kokpit pada Sea Harrier dinaikkan. Kanopi bubble digunakan untuk memberikan angkauan pandang lebih 5aik. Faktor ini berguna dalam menjalankan fungsi sebagai pertahanan udara. Selain memodifikasi kokpit, panjang fuselage juga ditambah untuk pengakomodasi radar Blue coX Ferranti (kini BAE System). Sejumlah bagian diganti menggunakan bahan anti karat atau ditambahkan pelapis untuk melindungi pesawat dari lingkungan laut.
Kokpit Sea Harrier termasuk pengaturan tuas kendali konvensional di tengah dan throttle di tangan kiri. Sebagai tambahan kendali terbang normal, ada tuas untuk mengendalikan arah keempat nozzle yang bisa di atur ke berbagai arah. Nozzle mengarah ke belakang dengan posisi tuas ke depan untuk terbang horizontal. Tuas ke belakang, nozzle mengarah ke belakang untuk lepas landas atau mendarat secara vertikal. Kedua model pesawat
tersebut membuktikan keandalannya saat konflik Falkland dengan Argentina. GR.3 Harrier AU Inggris digunakan untuk serangan darat sementara FRS.l Sea Harrier Al Inggris memberikan pertahanan udara. Berkat kemampuan manuver yang didukung persenjataan dan latihan yang lebih baik, Harrier menunjukkan performa yang unggul dalam menghadapi kekuatan Argentina. Terlepas dari keberhasilan kedua pesawat, Harrier tidak dapat betul-betul menguasai ruang udara hingga mengakibatkan armada Inggris rentan terhadap serangan Argentina.
Tak lama setelah dikenalkan secara operasional, Sea Harrier membuktikan keandalannya dalam konflik Kepulauan Falkland di tahun 1982. April 1982, Inggris melancarkan Operation Corporate dimana kekuatan laut melakukan pendaratan amfibi ke kepulauan tersebut. Sebagai pendukung udara, dikerahkan 28 Sea Harrier yang dioperasikan dari kapal induk komando HMS Hermes dan HMS Invincible.
Terlepas dari kesuksesan Sea Harrier di Falkland, banyak perwira AL Inggris menyadari keberuntungan mereka karena Sea Harrier sebetulnya menjalankan tugas di luar rancangannya. Kesuksesan terutama karena rudal AIM-9L. Di sisi lain, perang menunjukkan kekurangan Sea Harrier. Antara lain, pesawat ini tidak bisa bertahan di udara cukup lama dan dua Sidewinder tidak cukup. Selain itu radar Blue Fox tidak sesuai untuk tugas yang dijalankan, terutama karena kurangnya kemampuan “melihat ke bawah”.
Perlahan tapi pasti, akhirnya AU Inggris memensiunkan pesawat-pesawat Harrier- nya. Sebaliknya, berdasarkan pengalaman di Falkland, AL Inggris mengembangkan Sea Harrier. Segera setelah perang, “Phase I Update” dijalankan. Refit dimulai musim panas 1982 dan berakhir 1987. Peningkatan ini antara lain berupa penambahan kapasitas tangki dari 455 liter menjadi 854 liter. Termasuk rak peluncur yang bisa memuat dua Sidewinder di tiap outer pylon hingga menggandakan kapasitas rudal Sea Harrier menjadi empat.
Perubahan kecil lain juga ditambahkan. Salah satunya adalah skema “nozzle inching atau “nozzle nudging”. Skema baru ini memungkinkan pilot untuk melakukan pengaturan posisi nozzle secara terbatas menggunakan tombol airbrake di atas throttle sehingga mengurangi beban kerja “tangan ketiga” saat terbang STOVL.
Meskipun teknik tersebut hanya dapat mengubah posisi nozzle hingga maksimum 10 derajat, teknik ini terbukti bermanfaat bagi pilot untuk merasakan kondisi terbangnya. Modifikasi lainnya adalah penambahan sistem instrumen pendarat yang disebut “Microwave Aircraft Digital Guidance Equioment (MADGE)” untuk memlakukan pendaratan di atas kapal induk dalam cuaca buruk.
Sebagai tambahan, FRS.l dipasangi sistem generator tenaga cadangan sementara generator darurat pop-up ram-air turbine dihilangkan. Sistem lama ini dianggap kurang bermanfaat karena tujuannya digunakan jika mesin mati. Padahal saat mesin mati dan tak dapat dinyalakan kembali, tiap pilot Sea Harrier yang berpikiran jernih akan lebih mudah melontarkan diri. Alasannya, dengan sayap yang kecil dan glide slope 3:1, pendaratan Sea Harrier ala ranting kering di atas kapal induk bisa dibilang mustahil.
Satu proses perubahan yang sudah dilakukan sebelum Perang Falklands adalah fit dan kualifikasi Sea Harrier untuk meluncurkan rudal antikapal jarak jauh bertenaga turbojet BAE “Sea Eagle”. Sea Eagle masuk operasi 1987. Satu FRS.l Sea Harrier dapat membawa dua Sea Eagle. Walaupun FRS. 1 tidak memiliki sistem radar untuk membidik sasaran sendiri bagi Sea Eagle, melainkan mendapatkan petunjuk sasaran dari platform disebut FA.2.
Tahun 1990, AL Inggris memesan 18 FA.2 Sea Harrier yang per unitnya bernilai sekitar 12 juta pound. Lima pesawat berikutnya dipesan 1994. Sea Harrier yang ditingkatkan ini dioptimalkan untuk misi tempur dan serang. FA2 Sea Harrier menggunakan radar yang lebih baik, display kokpit baru, dan kemampuan mengusung senjata udara ke udara yang ditingkatkan. Peningkatan ini untuk menonjolkan kemampuan penguasaan udara.
FA.2 Sea Harrier dilengkapi radar Blue Vixen. Radar ini digambarkan sebagai sistem radar pulse Doppler paling canggih di dunia. Blue Vixen menjadi dasar pengembangan radar CAPTOR Eurofighter Typhoon. Selain itu Sea Harrier mampu mengusung rudal AIM-120 AMRAAM. AMRAAM merupakan turunan AIM-7 Sparrow yang sudah ditingkatkan, dengan kecepatan lebih tinggi, jangkauan lebih jauh hingga sekitar 48 km, dan jejak asap berkurang. Kemampuan ini menjadikan Sea Harrier pesawat Inggris pertama yang dapat mengusung rudal Amerika AMRAAM.
Blue Vixen jauh lebih canggih dibandingkan dengan radar lama Blue Fox. Dengan 11 pengaturan operasional, Blue Vixen memiliki jangkauan lebih jauh dengan kemampuan untuk melacak sekaligus memindai. Kemampuan ini memungkinkan raaar mengikuti sasaran sambil memindai ruang udara untuk mendeteksi keberadaan sasaran baru. Dalam kondisi “low probability of intercept” (LPI), juga dimungkinkan untuk mendeteksi sasaran tanpa diketahui RWR sasaran.
Blue Vixen juga jauh lebih “cerdas” dan lebih mudah dioperasikan dibandingkan dengan Blue Fox. Melakukan pencegatan dengan Blue Vixen sama dengan membiarkan radar menyeleksi udara ke udara, hingga mengarahkan pesawat ke arah yang tepat. Blue Vixen bisa dibilang sebagai salah satu mahakarya radar tempur.
Radar Blue Vixen dan AMRAAM memberi kemampuan unggul bagi Sea Harrier dalam mengunci dan menghancurkan intruder di luar jangkauan pandang (BVR), dan pada jarak relatif pendek, pilot Sea Harrier bahkan dapat menembakkan keempat rudal secara bersamaan untuk menyerang empat sasaran.
FRS.2 merupakan pesawat Eropa pertama yang masuk kualifikasi AMRAAM. Dulu, pilot Sea Harrier sempat merasa diri mereka kurang beruntung dibandingkan pilot dengan pesawat tempur modern. Tapi FRS.2 yang dilengkapi radar dan persenjataan yang unggul menjadikan kedudukan seimbang dalam pertempuran udara.
FRS.2 dapat membawa dua AMRAAM di outer pylon, dan dua pada pylon yang terpasang di perut pesawat menggantikan kanon. Kenyataannya memang kanon tidak selalu dipasang pada kebanyakan misi, walaupun tetap tersedia jika dibutuhkan. Alternatifnya, FRS.2 dapat membawa dua lain seperti pesawat patroli maritim BAE Nimrod.
Sea Eagle dirancang untuk pertempuran perairan terbuka dan tidak cocok untuk lepas pantai, lingkungan tempur maritim yang umum di era 1990-an. Karena itu, Sea Eagle pun dipensiunkan. Sisanya masih dioperasikan di India.
Keterbatasan lainnya jelas membutuhkan pembenahan, untuk itu program “Phase II Update” bagi armada FRS.l dijalankan 1983 dengan kontrak bersama BAE di tahun 1985. Sea Harrier yang sudah ditingkatkan, yang juga merupakan basis dari produksi pesawat baru yang dinamai “Fighter Reconnaissance Strike Mark 2 (FRS.2)\ Program peningkatan menjadi FRS.2 standar disetujui 1984. Empat tahun kemudian di bulan September prototipe hasil peningkatan pesawat ini terbang untuk pertama kalinya. Selang tiga bulan, kontrak program peningkatan pun ditandatangani untuk 29 pesawat yang ditingkatkan, F/A.2. Pesawat ini kemudian
panjang, moncong FRS.2 juga lebih silindris. Tambahan ujung sayap aslinya dianggap untuk mengimbangi efek aerodinamik akibat membawa AMRAAM. Kenyataannya, hal itu tak sepenuhnya betul, namun perubahan kecil tetap dilakukan. Untuk mesinnya digunakan Pegasus varian baru, Pegasus 106. Pegasus 106 merupakan Pegasus 104 yang sudah dibangun ulang dan disempurnakan menjadi versi naval.
Untuk menerapkan sistem kendali HOTAS (hands on throttle and stick) dan memberikan tampilan multi fungsi, kokpit menjalani revisi lagi. Selain itu ditambahkan sistem nav/attack yang lebih baik dan Marconi Sky Guardian RWR. Pesawat yang sudah dimutakhirkan ini juga dilengkapi MIL-STD-1553B data bus. Pada akhirnya kemampuan navigasi GPS juga ditambahkan dengan memasang GPS genggam Garmin 100 pada kokpit dan menyambungkannya ke antena yang terpasang di belakang kursi lontar.
Sebanyak 33 FRS.1 ditingkatkan untuk mengonversikan ke FRS.2. FRS.l terakhir menjalani konversi tahun 1995, dan FRS.2 yang dibangun ulang dikirimkan 1997. Selama 1995-1998, 18 FRS.2 baru dipesan dan dikirimkan. Batch terakhir dikirimkan 24 Desember 1998 sebagai “hadiah Natal” bagi AL Inggris.
Sebagai tambahan, AL Inggris mendapatkan tujuh “T Mark 8″ trainers. Semua pesawat ini merupakan konversi dari pesawat Harrier T2 tandem. T.8 sama dengan T.4N, namun dilengkapi avionik yang sudah dimutakhirkan dan tata ruang kokpit lebih baik hingga menyamai Sea Harrier FRS.2.
Dengan catatan, T.8 tidak dilengkapi dengan radar Blue Vixen. Penerbangan perdana T.8 pertama dilakukan tahun 1994 dengan pengiriman awal tahun 1995.
Program peningkatan dan pengadaan menghasilkan armada Sea Harrier berkekuatan 51 pesawat bagi AL Inggris. FRS.2 kemudian menggantikan FRS.l patroli di Balkan dan mulai menjalani evaluasi operasional di sana.
Pertengahan 1990-an, FRS.2 mendapat sebutan FA.2. FA merupakan singkatan dari “Fighter Attack”. Huruf “R” untuk “reconnaissance” ditanggalkan karena sebetulnya Sea Harrier tidak pernah betul-betul sesuai untuk misi tersebut. AL Inggris tidak pernah peduli untuk menambahkan reconnaissance pod pada jenis tersebut. Sedangkan huruf “S” untuk “Strike” diubah menjadi “A’ untuk “Attack”, sepertinya karena misi serangan nuklir Sea Harrier dibatalkan tahun 1991. Tindakan pembatalan ini sebagai bagian dari pengurangan kekuatan taktis nuklir Dunia Barat. Penamaan FA. 2 bisa dibilang tidak konsisten karena sebetulnya permulaan dinamai F/A.2. Setahun kemudian penamaan ini diubah menjadi FA.2, sepertinya karena terlalu menyerupai skema penamaan Amerika.
Pesawat pertama FA. 2 Sea Harrier dikirim 2 April 1993. Dioperasikan pertama kali April 1994 sebagai bagian dari kekuatan PBB di Bosnia. FA.2 Sea Harrier terakhir dikirim 18 Januari 1999. Sebanyak FA2 Sea Harrier versi terkini yang beroperasi di AL Inggris rencananya akan digantikan dengan Joint Strike Fighter (JSF) yang masih dalam proses untuk masuk operasional.
Direncanakan Sea Harrier tetap beroperasi di lingkungan FAA (Fleet Air Arm) AL Inggris setidaknya hingga 2012. Harapannya, di tahun 2012 versi STOVL Lockheed Martin F-35 F-35 JSF sudah siap untuk menggantikan. Inggris termasuk kontributor besar dalam program JSF sehingga tak mengherankan jika Inggris berharap F-35 dapat menggantikan semua Harrier di FAA maupun AU Inggris.
Terlepas dari rencana tersebut, ternyata awal 2002 Menteri Pertahanan menyatakan bahwa penarikan dimulai 2004. Sea Harrier AL Inggris ditarik dari operasionalnya dua tahun kemudian. Sepertinya Inggris mencari pembeli sementara berharap sebagian di antaranya bisa masuk museum.
Rencananya sebelum JSF masuk FAA akan mengadopsi Harrier II generasi kedua AU Inggris, meski sebetulnya untuk kekuatan sementara pun sebetulnya pesawat ini kurang mumpuni. Terutama karena kekurangannya dalam hal kemampuan tempur udara ke udara jarak jauh.
Tahun 2005, setelah mencari dana selama beberapa tahun, AL India memulai program untuk memutakhirkan 14 Harrier Mk 51. Peningkatannya melibatkan kit Israel, termasuk radar multimode Elta EL/M-2032 rudal udara ke udara Rafael Derby BVR. Diharapkan AL India tertarik untuk membeli kelebihan FA.2 Sea Harrier sehingga pesawat-pesawat kebanggaan Inggris ini tidak berakhir sebagai rongsokan.
Sayangnya tawaran Inggris tidak termasuk komponen vital seperti rudal dan Blue Vixen fire control radar. Setelah melalui kajian teknikal dan finansial yang dilakukan oleh pilot AL India dan perwakilan Menteri Pertahanan, India memutuskan untuk tidak meneruskan niatnya membeli. Alasannya, pasca pembelian pesawat masih membutuhkan banyak biaya untuk meningkatkan avionik dan persenjataannya. Sebagai gantinya, India mempertimbangkan Bae Hawks atau Boeing/Bae Goshawk.
Maret 2006, seluruh Sea Harrier dipensiunkan. Beberapa di antaranya dipertahankan untuk digunakan oleh School of Flight Deck Operations di RNAS (Royal Naval Air Station) Culdrose. Teorinya, pesawat ini bisa diperbarui jika dibutuhkan. Sementara itu FAA AL Inggris terus mengoperasikan komponen lain dari Joint Force Harrier, Harrier GR7 dan Harrier GR9 yang sudah ditingkatkan bersama AU Inggris. Dua skadron utamanya, 800 NAS (Naval Air Squadron) ditugaskan kembali 6 April dan 801 NAS diharapkan untuk beroperasi lagi tahun 2007. Memasuki 2007, keduanya mengoperasikan GR9. Rencana pembe ian sekitar 150 F-35 nantinya akan dibagi antara kedua angkatan dan akan dioperasikan dari Royal Navy’s Future Carrier (CVF), (don)
General (Allgemeine Angaben)Crew (Besatzung): 1 on Martin-Baker Mk.10H zero-zero ejection seat
Weapons: No internal armament. Four wing and three underfuselage stations can carry weapons like:
4 x Raytheon AIM-120B ARAAM
4 x AIM-9 Sidewinder
2 x 30 mm Aden gun pods (150 rounds each)
500 kg free fall or retarded bombs (Freifallbomben oder Bomben mit Bremsmechanismus)
2 x Sea Eagle anti-ship missiles (Anti-Schiffs-Lenkwaffen von BAE)
Power plant (Antrieb)1 x Rolls-Royce Pegasus Mk 106 turbofan with swivelling nozzles
Thrust (Schub): 95,6 kN (21500 lbs)

Dimensions (Abmessungen)Length (Länge): 14,17 m
Length, nose cone folded (Länge mit beigeklappter Nase): 13,06 m
Height (Höhe): 3,61 m
Span (Spannweite): 7,70 m
Wing area (Flügelfläche): 18,7 sq m
Wheelbase (Radstand): ca. 3,45 m

Weights (Massen)Operating weight empty (Leermasse): 6616 kg
Max. payload (max. Nutzlast): 3855 kg
Max. external weapons laod (Waffenlast): 3629 kg
Max. fuel (Max. Kraftstoff): 2295 kg internal, up to 3000 litres external
Vertical take-off (Senkrechtsart): 7992 kg
Max. take-off weight (Max. Startmasse): 11 880 kg

Performance (Flugleistungen)Max. speed (max. Fluggeschwindigkeit): Mach 0.94 at sea level (1145 km/h, 618 kts)
Max. speed at high altitude (Geschwindigkeit in großer Höhe): Mach 0.97 (1070 km/h, 578 kts)
Cruise speed (Marschgeschwindigkeit): around 850 km/h at 10975 m
Combat air patrol: 1 h 30 min on station at 110 NM (185 km) from carrier
Surface attack mission radius: 200 NM (370 km) with two Sea Eagle missiles and 30 mm guns
g-Limits: +7,8/-4,2
Source :  http://topmdi.net
  

0 comments:

Post a Comment