04 May 2011

Dibalik Kegagalan Pesawat Jet Tempur F-16 TNI AU sewaktu menghadang F-18 Hornet AS Di Bawean

Apa ada anda masih ingat insiden Bawean tahun 2003 dulu ? Sewaktu pesawat tempur As secara berani masuk ke wilayah NKRI tanpa permisi, bahkan sempat hendak mengeluarkan rudal pada pesawat TNI- AU. Berikut ini liputan komplit kronologis kejadiannya.

Insiden Bawean adalah duel udara pesawat tempur F-16 TNI-AU dengan pewat tempur F/A 18 Hornet milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) yang menerobos masuk wilayah Indonesia di atas kepulauan Bawean. Mulanya orang nyangka ini hanya sekadar latihan militer atau simulasi perang-perangan. Ternyata ini kisah nyata.

Tepatnya pada 3 Juli 2003, kawasan udara di atas Pulau Bawean sontak memanas ketika lima pesawat asing yang kemudian diketahui sebagai pesawat F/A 18 Hornet terdeteksi radar TNI AU.



Dari pantauan radar, kelima Hornet terbang cukup lama, lebih dari satu jam dengan manuver sedang latihan tempur. Untuk semenntara Kosek II Hanudnas (Komando Sektor II Pertahanan Udara Nasional) dan Popunas (Pusat Operasi Pertahanan Udara Nasional) belum melakukan tindakan identifikasi dengan cara mengirimkan pesawat tempur karena kelima Hornet kemudian menghilang dari layar radar.

Sekitar dua jam kemudian, Radar Kosek II kembali menangkap manuver Hornet. Karena itu panglima Konanudnas menurunkan perintah untuk segera melakukan identifikasi. Apalagi manuver sejumlah Hornet itu sudah mengganggu penerbangan komersial yang akan menuju ke Surabaya dan Bali serta sama sekali tak ada komunikasi dengan ATC terdekat.

Lalu, dua pesawat tempur buru sergap F-16 TNI-AU yang masing-masing diawaki Kapten Pnb. Ian Fuadi/Kapten Fajar Adrianto dan Kapten Pnb. Tony Heryanto/Kapten Pnb. Satro Utomosegera disiapkan.

Menjelang petang, Falcon Fligh F-16 melesat ke udara dan tak lama kemudian kehadiran mereka langsung disambut dua pesawat Hornet. Radar Falcon Fligh segera menangkap kehadiran dua Hornet yang terbang cepat dalam posisi siap tempur. Perang radar atau jamming antara kedua pihak pun berlangsung seru. Yang lebih menegangkan pada saat yang sama, F-16 yang berada pada posisi pertama telah dikunci, lock on oleh radar dan rudal Hornet. F-16 kedua yang terbang dalam posisi supporting Fighter juga dikejar oleh Hornet lainnya. Namun posisi F-16 kedua lebih menguntungkan. Jika memang harus terjadi dog fight ia bisa melancarkan bantuan.

Untuk menghindari sergapan rudal lawan seandainya memang benar-banar diluncurkan, F-16 pertama lalu melakukan manuver menghindar, yakni hard break berbelok tajam hampir 90 derajat ke arah kanan dan kiri serta melakukan gerakan zig-zag. Manuver tempur itu dilakukan secara bergantian baik oleh F-16 maupun Hornet yang terus ketat menempel. Melihat keadaan yang semakin memanas, F-16 kedua lalu mengambil inisiatif menggoyang sayap (rocking wing) sebagai tanda bahwa kedua pesawat F-16 TNI-AU tidak mempunyai maksud mengancam.

Sekitar satu menit kemudian, kedua F-16 berhasil berkomunikasi dengan kedua Hornet yang mencegat mereka. Dari komunikasi singkat itu akhirnya diketahui bahwa mereka mengklaim sedang terbang di wilayah perairan internasional. "We are F-18 Hornets from US Navy Fleet, our position on International Water, stay away from our warship". F-16 pertama lalu menjelaskan bahwa mereka sedang melaksanakan patroli dan bertugas mengidentifikasi visual serta memberi tahu bahwa posisi F-18 berada di wilayah Indonesia. Mereka juga diminta mengontak ke ATC setempat, karena ATC terdekat Bali Control belum mengetahui status mereka.


Usai kontak Hornet AS itu terbang menjauh sedang kedua F-16 TNI-AU return to base, kembali ke pangkalannya Lanud Iswahjudi Madiun. Selain berhasil bertemu dengan Hornet, kedua F-16 TNI-AU juga melihat sebuah kapal perang Friget yang sedang berlayar ke arah timur. Setelah kedua F-16 mendarat selamat di pangkalan TNI-AU menerima laporan dari MCC Rai (ATC Bali) bahwa fligh Hornet merupakan bagian dari armada US Navy. Namun yang paling penting dan merupakan tolak ukur suksesnya tugas F-16, Hornet AL AS itu baru saja mengontak MCC RAI dan melaporkan kegiatannya.

Keesokan harinya TNI-AU terus mengadakan pemantauan terhadap konvoi armada laut AS itu dengan mengirimkan pesawat intai B737. Hasil pengintaian dan pemotretan menunjukkan bahwa armada laut AS yang terdiri dari kapal induk USS Carl Vinson, dua friget dan satu destroyer sedang berlayar diantara Pulau Madura dan Kangean menuju Selat Lombok. Selama operasi pengintaian itu pesawat surveillance B737 terus dibanyangi dua F/A 18 Hornet AL AS. Bahan-bahan yang didapat dari misi itu kemudian dipakai oleh pemerintah untuk melancarkan "keberatan" secara diplomatik terhadap pemerintah AS.

Itulah kisah sebenarnya yang terjadi bawean. Kok bisa-bisanya pasukan AS ini mondar-mandir di perairan indonesia tanpa permisi...yah
yang lebih mengkhawatirkan saat ini pemerintah akan membeli F-16 dari AS,
Sebagai produksi buatan Amerika, Amerika praktis telah mengetahui kelemahan-kelemahannya yang paling utama dari produk-produk militernya yang dijual ke negara-negara lain. Tak terkecuali pesawat jet tempur F-16.

Mari kita tengok kejadian bawean tadi. Sewaktu pesawat jet tempur Amerika F-18 Hornet melewati daerah kedaulatan teritorial Indonesia. Ketika Amerika melakukan manuver pesawat ini, pesawat F-16 TNI Angkatan Udara kita waktu itu langsung melakukan pengejaran. Tapi apa yang terjadi kemudian? Pesawat F-16 milik TNI Angkatan Udara dengan serta merta berhasil dikunci sehingga tidak berkutik.
Kalo beli pesawatnya masih di setir AS terus. Gimana TNI-AU bisa maju ?
Pengalaman pahit TNI AU Juli 2003 lalu sebaiknya jadi bahan pertimbangan serius untuk membatalkan pembelian tersebut.
Gimana menurut teman2 ? beli atau jangan ? 

14 comments:

Anonymous said...

salam kenal. seram jg sy membacanya. kalo sampai kejadian. pastilah F-16 kita jadi bulan-bulanan. Mungkin tidak dengan Sukhoi. Emang lebih baik TNI-AU ambil buatan Rusia aja sih pesawatnya yg katanya minim perawatan dan komponennya murah tapi ga murahan.

Anonymous said...

sekarang jenis F 18 Hornet itu sudah di grounded sebanyak 800 unit padahal masih laik operasional..... negara yang dipenuhi pejabat tinggi yang KORUP .. tidak akan pernah maju... jika HIBAH itu namanya diberi CUMA CUMA.... jika harus diretrofit kemudian total biaya sampai 30 % dari harga baru sekitar 30 juta US Dollar.... artinya nilai Retrofitdan body rongsokan itu adalah 24 x 10 juta dollar.= 240 juta dollar
coba belikan MIRAGE V yang harganya juga sekitar 30 jt pasti dapat 8 pesawat gress yang kemampuannya TIDAK pernah dikuasai AMERIKA..... apalah arti 240 juta dollar sampai 600 jota dollar,,, jia dibandingkan uang rakyat yang dikorupsi ,mencapai 400,000 milyar alian 400 trilyun.... sungguh negri ini dipenuhi para bangsat berrdasi terutama BANGGAR DPR....!!!!

Anonymous said...

JANGAN!!! Sekalipun hibah sekalipun GRATIS jangan!!!! Mau, kita terus2an di dikte,dikit2 Embargo sudah tau gt msh aja nerima,DPRnya yg Goblok maen setuju aja!!!! NKRI adalah negara yang BESAR negara kepulauan pula. Malaysia aja punya 2 skuadron Sukoi,masa kita F-16 hibah yg ngasih (amerika) cerewet pula dikit2 main embargo aja. Mau jadi apa negara ini kasian rakyat kita. jangan kan sama US ARMY entah itu USAF atau US NAVY orang sama Malaysia aja kita ditantang ga brani !!! Dari Ambalat sampai TKI disiksa Diam aja Pemerintah. Mbok ya skali2 Kapal perangnya Malaysia di rudal biar kapok. Masak nelayan kita di tembakin diem aja. Kesimpulannya JANGAN!!! Mending sama Rusia n Cina udah ga akan brani itu AS sm Malaysia. NKRI HARGA MATI !!! SALAM SATU JIWA !!!

Anonymous said...

lebih baik TNI AU ambil pesawat buatan Rusia aja,biar keseringan kena embargo amerika

Anonymous said...

Ngapain lagi mau beli produk Amerika...., mau kena kadali lagi.....

PAKAR said...

BISA JADI MALAYSIA YANG PUNYA F-18 HORNET, MENGUNCI DENGAN MUDAH PESAWAT-PESAWAT F-16 KITA DENGAN SEKALI TEMBAKAN,........ PIKIRIN DONG ANGGOTA DPR..

si kaki meja said...

entah F-18 Hornet atau apa,entah udah digrounded atau tidak,harus dijadikan pedoman,jangan gunakan produk dr negara yang sama untuk menandingi,harus gunakan produk negara lain yang jadi lawannya,yaitu Rusia,sebenarnya Rusia lebih maju selangkah dr amrik,amrik itu mencuri teknologi Rusia,dengan cara menbeli produk Rusia dari negara eropa timur/pakta warsawa dgn cara kontra spionase,lalu dicari kelemahan dan dikembangkan,contoh nyata adalah pemerintah orde baru yang menjualMig-21 TNI ke amrik lewat perantara belgia,lalu ada kompensasinya buat penggantinya,akhirnya amrik keluar F16 buat lawan Mig 21,tank T-72 Rumania,karena pemerintahan yg korup pun menjual tank itu ke amrik,dikembangkan jadi M1 Abram,belum lagi Mig 31 yg dibawa mendarat di jepang oleh penerbang Rusia yg membelot,klo tak ada kejadian itu amrik gak ada kemajuan industri militernya,jadi teknologi Rusia masih bisa dikategorikan masih unggul,apalagi kapal selamnya..

Radenkayanto said...

usa selalu " over acting " dan memprovokasi Indonesia. Lebih baik beli Pesawat Tempur Buatan Rusia.Merdekaaaaaaaaa !!!

deyusa doank said...

Jaaanngaaannn.......
Jangan beli dari negara mana pun...!!!
Kita suap aja mereka yg mau mengancam NKRI
Klu perang kita udah pasti kalah gan....!
Habisnya persenjataan TNI kita udah karatan semua....nggk bisa di andelin....
Jadi sebaiknya kita pakai budaya indonesia yg suka KKN .....
Indonesia yg cinta damai...
Anti perang fisik...
Maunya perang mulut...
Yg kaya ibu-ibu kampungan...
Itulah INDONESIA SEKARANG DI MATA ANE...!!!!
MALANGNYA NEGERI INI PUNYA PEMIMPIN BANCI.....!!!

Anonymous said...

kita harus bisa memproduksi pesawat tempur sendiri jangan tergantung pada pesawat buatan asing kita harus mempercepat kerja sama pembuatan pesawat tempur dengan korea agar kelak kita bisa membuat pesawat tempur sendiri agar kita tidak dibuat untuk mengalah dengan negara Amerika Serikat. Ayooo indonesia kita harus maju kalahkan semua musuh yang menggangu kedaulatan kita tanah air ini harga mati merdeka!!!!

Anonymous said...

Kita sudah di jajah... Kedaulatan negara kita udah di acak2... Bahkan negara malingsia ysng kecil itu pun sejarang smakin berani sama negara kita, tapi itulah... Punya pemimpin lulusan djendral tapi ga ngerti kebutuhan alutsista tentaranya, makanya sekarang kita gak disegani lagi....

Anonymous said...

F-16C dari AS itu bukan beli tp hibah..alias gratis. sapa yg ga mau coba?

Kudu Lari said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Anonymous said...
This comment has been removed by a blog administrator.

Post a Comment