13 February 2012

T-50 Rusia ditambah, uji terbang menyeluruh


Pesawat tempur Rusia teknologi generasi kelima, T-50 PAK FA, masih dalam persiapan menuju produksi dan operasi. Namun kehadirannya mampu menjadikan polarisasi kekuatan Barat dan Timur semakin sengit dan berat.

Moskow (ANTARA News) - Jumlah pesawat tempur generasi ke-lima Sukhoi T-50 PAK FA akan ditambah menjadi 14 unit dari sekarang cuma tiga. Rusia memutuskan menambah jumlah pesawat tempur berteknologi paling canggih di dunia itu untuk uji terbang mendalam.

Panglima Angkatan Udara Rusia, Alexander Zelin, Senin, menurut RIA Novosti, mengatakan, "Sudah terdapat tiga pesawat tempur yang turut dalam uji terbang, tiga lainnya diperkirakan diuji coba dalam waktu dekat. Seluruh jumlah pesawat untuk uji terbang sebanyak 14 unit."

Sukhoi T-50 dikembangkan dalam program PAK FA atau Perspektivny Aviatsionny Kompleks Frontovoy Aviatsii (Prospective Airborne Complex of Frontline Aviation) di biro rancang pesawat terbang Sukhoi.

T-50 PAK FA tampil pertama kali kepada masyarakat saat Pameran Kedirgantaraan MAKS-2011 dekat Moskow pada 17 Agustus 2011.

Petempur yang dikembangkan bersama mitra dari India --Hindustan Aeronautics Limited (HAL)-- tersebut melakukan terbang perdananya di Rusia wilayah timur pada awal 2010.

Zelin juga mengatakan T-50 milik Rusia melampaui kemampuan pesawat asal Amerika Serikat dan China. Mampu terbang dalam kecepatan 2,2 kecepatan suara dalam mode stealth adalah kemampuan dasar bagi T-50 PAK FA itu. 

Untuk pertempuran jarak dekat, manuver Pugachev atau Cobra seperti yang bisa dilakukan Su-27 atau Su-30 Flanker, sangat mudah dilakukan T-50 PAK FA yang sudah menerapkan sistem navigasi dan manajemen tempur melalui fasilitas helm dan visi di mata pilot.

"Setelah menganalisa perbandingan sifat pesawat dengan asal China kami menyimpulkan T-50 PAK FA melampaui kemampuan pesawat F-22 Raptor milik AS dan pesawat siluman J-20 tersebut dalam hal kecepatan maksimum, jarak terbang, berat maksimal saat lepas landas, dan nilai daya angkut maksimal," tambah Zelin.

Rusia telah mengembangkan petempur generasi kelimanya sejak 1990-an. Sejumlah pejabat tinggi militer Rusia menyebutkan jet tempur siluman itu --jarak terbang hingga 5.500 kilometer pada versi standar tanpa tangki cadangan-- bisa memasuki masa bakti di AU Rusia pada 2015.

Menurut data RIA Novosti, Sukhoi T-50 PAK FA menggunakan mesin ganda Saturn 117S (AL-41F1A) TRDDF turbo jet menggunakan afterburners dengan durasi terbang maksimal selama tiga jam.

Arsenal pesawat tersebut diantaranya telah memodifikasi kanon GSh-301 dengan peluru berdiameter 30 milimeter dengan menambah jumlah putaran letupan dan tenaga dorong.

Selain itu T-50 memiliki 10 cantelan senjata untuk roket dan bom serta bisa di sesuaikan dengan cantelan roket tambahan sehingga kawasan target bisa lebih ditingkatkan.

"Pengoperasian T-50 akan lebih murah 100 juta dolar AS atau 2,5 kali lebih murah dari pengoperasian F-22 Raptor buatan Lockheed Martin dan Boeing," demikian dikutip RIA Novosti. (B019)

Source : antaranews
Read More >>

18 August 2011

Sukhoi T-50 Di Tampilkan Pertama Kali Ke Publik


SUKHOI T-50
MOSKOW-(IDB) : Pesawat tempur berteknologi stealthpertama buatan Rusia, Sukhoi T-50, akhirnya ditampilkan kepada publik untuk pertama kalinya dalam hajatan MAKS Air Show di lapangan udara Zhukovskiy, di dekat Moskwa, Selasa (16/8/2011).

Pesawat itu diharapkan akan menjadi pesaing utama pesawat tempur stealth AS, F-22 Raptor dan F-35 Lightning II.

Pesawat tempur generasi kelima, yang dikembangkan bersama oleh Rusia dan India itu, terbang perdana Januari lalu di salah satu pangkalan udara Rusia di Timur Jauh. Namun, penampilan hari Selasa adalah penampilan perdana di depan publik, yang menunjukkan para pembuat pesawat itu sudah percaya diri dengan kemampuannya.

Hari Rabu (17/8/2011) besok, dua purwarupa pesawat berwarna perak itu akan memeragakan berbagai manuver aerobatik di hadapan para pengunjung MAKS Air Show, termasuk Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin. Kesempatan ini akan menjadi kesempatan yang ditunggu-tunggu para pecinta dunia dirgantara di seluruh dunia.

Mikhail Pogosyan, Presiden United Aircraft Corporation yang memproduksi pesawat ini, mengatakan, T-50 nantinya tak hanya menjadi tulang punggung kekuatan AU Rusia, tetapi juga AU India. India bahkan dikabarkan memesan lebih banyak pesawat, yakni 200 pesawat, dibandingkan dengan AU Rusia, yang hanya memesan sekitar 150 pesawat.

United Aircraft berambisi menjual sedikitnya 1.000 pesawat T-50 dalam beberapa dekade mendatang, dan menguasai setidaknya sepertiga dari pangsa pasar pesawat tempur berteknologi stealth (siluman, tak terdeteksi radar) di dunia. Untuk bersaing dengan pesawat-pesawat setara buatan AS, T-50 akan dijual dengan harga lebih murah.

Perkiraan sementara menyebut, pesawat canggih itu akan dijual dengan harga tak lebih dari 100 juta dollar AS (Rp 852,5 miliar) per unit. Bandingkan dengan harga F-22 Raptor yang dihargai 140 juta dollar AS.

Para pejabat Rusia mengatakan, versi final Sukhoi T-50 ini baru akan selesai akhir 2016. Meski demikian, Kepala Staf AU Rusia Kolonel Jenderal Alexander Zelin, berharap, pesawat pertama pesanan AU Rusia sudah bisa dikirim dalam tiga tahun mendatang.

Proyek pesawat ini sudah dimulai sejak dekade 1980, dengan tujuan membangun pesawat untuk menggantikan armada MiG-29 dan Su-27 AU Uni Soviet yang sudah mulai menua. Namun, proyek ini kemudian kesulitan dana dan sempat dihentikan. Sampai akhirnya India bersedia digandeng untuk bekerja sama akhir 2010 lalu.

Jika dibandingkan dengan AS, pengembangan pesawat siluman Rusia tertinggal cukup jauh. Saat ini, AS bahkan sudah akan mengoperasikan armada pesawat tempur stealth kedua, yakni F-35 Lightning II, yang juga akan dijual ke beberapa negara sekutu AS di NATO.

Zelin mengatakan, untuk menutup ketimpangan kekuatan angkatan udara sampai T-50 siap dioperasikan penuh, AU Rusia akan mengandalkan versi terbaru pesawat tempur MiG, yakni MiG-35. "Kami belum menghentikan proyek MiG-35D. Tetapi pada akhirnya, kami akan melakukan transisi penuh ke (armada) T-50," tutur Zelin. 

Source : Kompas.com
Read More >>

VIDEO Proyek Pembuatan Indonesia 4.5 Semi-Stealth Fighter KFX





Source : YouTube
Read More >>

06 August 2011

FA-2 Sea Harrier


Pengembangan pesawat revolusioner Harrier “jump jet” dimulai awal 1960-an. Di masa-masa itulah para perencana Inggris mulai melihat keuntungan dari pesawat yang lepas landas dengan cara vertical.
Kemampuan ini bisa mengurangi ketergantungan terhadap landasan dan kapal induk yang besar dan mahal. Harrier dirancang untuk pesawat serbu intai.Pesawat Harrier merupakan hasil evolusi dari Hawker P. 1127/Kestrel melaluiserangkaian peristiwa kebetulan. Meskipun memiliki sejumlah keterbatasan dalam hal performa, jangkauan, dan kemampuan tempur, pesawat yang dihasilkan terbukti bermanfaat dan menjadi aset penting bagi AU Inggris dan Korps Marinir AS.
Harrier merupakan satu- satunya pesawat jet yang betul-betul dioperasikan secara V/STOL (Vertical/Short Take Off and Landing). Pesawat VTOL ini mendapatkan tenaganya dari satu mesin dengan empat nozzles yang bisa berputar. Nozzle inilah yang memungkinkan Harrier untuk bisa beroperasi dari mana saja. Mulai dari kapal induk, lapangan terbang, hingga lapangan terbuka dengan sedikit ruang untuk bermanuver.
Potensi pengoperasian Harrier di laut sudah dipahami saat Harrier GR. I dan GR.3 AU Inggris mulai beroperasi. Di sisi lain program AL mengalami banyak penundaan karena alasan politis. Baru setelah 1975, proyek Sea Harrier akhirnya disetujui.
Sea Harrier atau biasa disebut Shars, sebagian besar berbasis Harrier GR.3 dengan beberapa modifikasi. Kokpit pada Sea Harrier dinaikkan. Kanopi bubble digunakan untuk memberikan angkauan pandang lebih 5aik. Faktor ini berguna dalam menjalankan fungsi sebagai pertahanan udara. Selain memodifikasi kokpit, panjang fuselage juga ditambah untuk pengakomodasi radar Blue coX Ferranti (kini BAE System). Sejumlah bagian diganti menggunakan bahan anti karat atau ditambahkan pelapis untuk melindungi pesawat dari lingkungan laut.
Kokpit Sea Harrier termasuk pengaturan tuas kendali konvensional di tengah dan throttle di tangan kiri. Sebagai tambahan kendali terbang normal, ada tuas untuk mengendalikan arah keempat nozzle yang bisa di atur ke berbagai arah. Nozzle mengarah ke belakang dengan posisi tuas ke depan untuk terbang horizontal. Tuas ke belakang, nozzle mengarah ke belakang untuk lepas landas atau mendarat secara vertikal. Kedua model pesawat
tersebut membuktikan keandalannya saat konflik Falkland dengan Argentina. GR.3 Harrier AU Inggris digunakan untuk serangan darat sementara FRS.l Sea Harrier Al Inggris memberikan pertahanan udara. Berkat kemampuan manuver yang didukung persenjataan dan latihan yang lebih baik, Harrier menunjukkan performa yang unggul dalam menghadapi kekuatan Argentina. Terlepas dari keberhasilan kedua pesawat, Harrier tidak dapat betul-betul menguasai ruang udara hingga mengakibatkan armada Inggris rentan terhadap serangan Argentina.
Tak lama setelah dikenalkan secara operasional, Sea Harrier membuktikan keandalannya dalam konflik Kepulauan Falkland di tahun 1982. April 1982, Inggris melancarkan Operation Corporate dimana kekuatan laut melakukan pendaratan amfibi ke kepulauan tersebut. Sebagai pendukung udara, dikerahkan 28 Sea Harrier yang dioperasikan dari kapal induk komando HMS Hermes dan HMS Invincible.
Terlepas dari kesuksesan Sea Harrier di Falkland, banyak perwira AL Inggris menyadari keberuntungan mereka karena Sea Harrier sebetulnya menjalankan tugas di luar rancangannya. Kesuksesan terutama karena rudal AIM-9L. Di sisi lain, perang menunjukkan kekurangan Sea Harrier. Antara lain, pesawat ini tidak bisa bertahan di udara cukup lama dan dua Sidewinder tidak cukup. Selain itu radar Blue Fox tidak sesuai untuk tugas yang dijalankan, terutama karena kurangnya kemampuan “melihat ke bawah”.
Perlahan tapi pasti, akhirnya AU Inggris memensiunkan pesawat-pesawat Harrier- nya. Sebaliknya, berdasarkan pengalaman di Falkland, AL Inggris mengembangkan Sea Harrier. Segera setelah perang, “Phase I Update” dijalankan. Refit dimulai musim panas 1982 dan berakhir 1987. Peningkatan ini antara lain berupa penambahan kapasitas tangki dari 455 liter menjadi 854 liter. Termasuk rak peluncur yang bisa memuat dua Sidewinder di tiap outer pylon hingga menggandakan kapasitas rudal Sea Harrier menjadi empat.
Perubahan kecil lain juga ditambahkan. Salah satunya adalah skema “nozzle inching atau “nozzle nudging”. Skema baru ini memungkinkan pilot untuk melakukan pengaturan posisi nozzle secara terbatas menggunakan tombol airbrake di atas throttle sehingga mengurangi beban kerja “tangan ketiga” saat terbang STOVL.
Meskipun teknik tersebut hanya dapat mengubah posisi nozzle hingga maksimum 10 derajat, teknik ini terbukti bermanfaat bagi pilot untuk merasakan kondisi terbangnya. Modifikasi lainnya adalah penambahan sistem instrumen pendarat yang disebut “Microwave Aircraft Digital Guidance Equioment (MADGE)” untuk memlakukan pendaratan di atas kapal induk dalam cuaca buruk.
Sebagai tambahan, FRS.l dipasangi sistem generator tenaga cadangan sementara generator darurat pop-up ram-air turbine dihilangkan. Sistem lama ini dianggap kurang bermanfaat karena tujuannya digunakan jika mesin mati. Padahal saat mesin mati dan tak dapat dinyalakan kembali, tiap pilot Sea Harrier yang berpikiran jernih akan lebih mudah melontarkan diri. Alasannya, dengan sayap yang kecil dan glide slope 3:1, pendaratan Sea Harrier ala ranting kering di atas kapal induk bisa dibilang mustahil.
Satu proses perubahan yang sudah dilakukan sebelum Perang Falklands adalah fit dan kualifikasi Sea Harrier untuk meluncurkan rudal antikapal jarak jauh bertenaga turbojet BAE “Sea Eagle”. Sea Eagle masuk operasi 1987. Satu FRS.l Sea Harrier dapat membawa dua Sea Eagle. Walaupun FRS. 1 tidak memiliki sistem radar untuk membidik sasaran sendiri bagi Sea Eagle, melainkan mendapatkan petunjuk sasaran dari platform disebut FA.2.
Tahun 1990, AL Inggris memesan 18 FA.2 Sea Harrier yang per unitnya bernilai sekitar 12 juta pound. Lima pesawat berikutnya dipesan 1994. Sea Harrier yang ditingkatkan ini dioptimalkan untuk misi tempur dan serang. FA2 Sea Harrier menggunakan radar yang lebih baik, display kokpit baru, dan kemampuan mengusung senjata udara ke udara yang ditingkatkan. Peningkatan ini untuk menonjolkan kemampuan penguasaan udara.
FA.2 Sea Harrier dilengkapi radar Blue Vixen. Radar ini digambarkan sebagai sistem radar pulse Doppler paling canggih di dunia. Blue Vixen menjadi dasar pengembangan radar CAPTOR Eurofighter Typhoon. Selain itu Sea Harrier mampu mengusung rudal AIM-120 AMRAAM. AMRAAM merupakan turunan AIM-7 Sparrow yang sudah ditingkatkan, dengan kecepatan lebih tinggi, jangkauan lebih jauh hingga sekitar 48 km, dan jejak asap berkurang. Kemampuan ini menjadikan Sea Harrier pesawat Inggris pertama yang dapat mengusung rudal Amerika AMRAAM.
Blue Vixen jauh lebih canggih dibandingkan dengan radar lama Blue Fox. Dengan 11 pengaturan operasional, Blue Vixen memiliki jangkauan lebih jauh dengan kemampuan untuk melacak sekaligus memindai. Kemampuan ini memungkinkan raaar mengikuti sasaran sambil memindai ruang udara untuk mendeteksi keberadaan sasaran baru. Dalam kondisi “low probability of intercept” (LPI), juga dimungkinkan untuk mendeteksi sasaran tanpa diketahui RWR sasaran.
Blue Vixen juga jauh lebih “cerdas” dan lebih mudah dioperasikan dibandingkan dengan Blue Fox. Melakukan pencegatan dengan Blue Vixen sama dengan membiarkan radar menyeleksi udara ke udara, hingga mengarahkan pesawat ke arah yang tepat. Blue Vixen bisa dibilang sebagai salah satu mahakarya radar tempur.
Radar Blue Vixen dan AMRAAM memberi kemampuan unggul bagi Sea Harrier dalam mengunci dan menghancurkan intruder di luar jangkauan pandang (BVR), dan pada jarak relatif pendek, pilot Sea Harrier bahkan dapat menembakkan keempat rudal secara bersamaan untuk menyerang empat sasaran.
FRS.2 merupakan pesawat Eropa pertama yang masuk kualifikasi AMRAAM. Dulu, pilot Sea Harrier sempat merasa diri mereka kurang beruntung dibandingkan pilot dengan pesawat tempur modern. Tapi FRS.2 yang dilengkapi radar dan persenjataan yang unggul menjadikan kedudukan seimbang dalam pertempuran udara.
FRS.2 dapat membawa dua AMRAAM di outer pylon, dan dua pada pylon yang terpasang di perut pesawat menggantikan kanon. Kenyataannya memang kanon tidak selalu dipasang pada kebanyakan misi, walaupun tetap tersedia jika dibutuhkan. Alternatifnya, FRS.2 dapat membawa dua lain seperti pesawat patroli maritim BAE Nimrod.
Sea Eagle dirancang untuk pertempuran perairan terbuka dan tidak cocok untuk lepas pantai, lingkungan tempur maritim yang umum di era 1990-an. Karena itu, Sea Eagle pun dipensiunkan. Sisanya masih dioperasikan di India.
Keterbatasan lainnya jelas membutuhkan pembenahan, untuk itu program “Phase II Update” bagi armada FRS.l dijalankan 1983 dengan kontrak bersama BAE di tahun 1985. Sea Harrier yang sudah ditingkatkan, yang juga merupakan basis dari produksi pesawat baru yang dinamai “Fighter Reconnaissance Strike Mark 2 (FRS.2)\ Program peningkatan menjadi FRS.2 standar disetujui 1984. Empat tahun kemudian di bulan September prototipe hasil peningkatan pesawat ini terbang untuk pertama kalinya. Selang tiga bulan, kontrak program peningkatan pun ditandatangani untuk 29 pesawat yang ditingkatkan, F/A.2. Pesawat ini kemudian
panjang, moncong FRS.2 juga lebih silindris. Tambahan ujung sayap aslinya dianggap untuk mengimbangi efek aerodinamik akibat membawa AMRAAM. Kenyataannya, hal itu tak sepenuhnya betul, namun perubahan kecil tetap dilakukan. Untuk mesinnya digunakan Pegasus varian baru, Pegasus 106. Pegasus 106 merupakan Pegasus 104 yang sudah dibangun ulang dan disempurnakan menjadi versi naval.
Untuk menerapkan sistem kendali HOTAS (hands on throttle and stick) dan memberikan tampilan multi fungsi, kokpit menjalani revisi lagi. Selain itu ditambahkan sistem nav/attack yang lebih baik dan Marconi Sky Guardian RWR. Pesawat yang sudah dimutakhirkan ini juga dilengkapi MIL-STD-1553B data bus. Pada akhirnya kemampuan navigasi GPS juga ditambahkan dengan memasang GPS genggam Garmin 100 pada kokpit dan menyambungkannya ke antena yang terpasang di belakang kursi lontar.
Sebanyak 33 FRS.1 ditingkatkan untuk mengonversikan ke FRS.2. FRS.l terakhir menjalani konversi tahun 1995, dan FRS.2 yang dibangun ulang dikirimkan 1997. Selama 1995-1998, 18 FRS.2 baru dipesan dan dikirimkan. Batch terakhir dikirimkan 24 Desember 1998 sebagai “hadiah Natal” bagi AL Inggris.
Sebagai tambahan, AL Inggris mendapatkan tujuh “T Mark 8″ trainers. Semua pesawat ini merupakan konversi dari pesawat Harrier T2 tandem. T.8 sama dengan T.4N, namun dilengkapi avionik yang sudah dimutakhirkan dan tata ruang kokpit lebih baik hingga menyamai Sea Harrier FRS.2.
Dengan catatan, T.8 tidak dilengkapi dengan radar Blue Vixen. Penerbangan perdana T.8 pertama dilakukan tahun 1994 dengan pengiriman awal tahun 1995.
Program peningkatan dan pengadaan menghasilkan armada Sea Harrier berkekuatan 51 pesawat bagi AL Inggris. FRS.2 kemudian menggantikan FRS.l patroli di Balkan dan mulai menjalani evaluasi operasional di sana.
Pertengahan 1990-an, FRS.2 mendapat sebutan FA.2. FA merupakan singkatan dari “Fighter Attack”. Huruf “R” untuk “reconnaissance” ditanggalkan karena sebetulnya Sea Harrier tidak pernah betul-betul sesuai untuk misi tersebut. AL Inggris tidak pernah peduli untuk menambahkan reconnaissance pod pada jenis tersebut. Sedangkan huruf “S” untuk “Strike” diubah menjadi “A’ untuk “Attack”, sepertinya karena misi serangan nuklir Sea Harrier dibatalkan tahun 1991. Tindakan pembatalan ini sebagai bagian dari pengurangan kekuatan taktis nuklir Dunia Barat. Penamaan FA. 2 bisa dibilang tidak konsisten karena sebetulnya permulaan dinamai F/A.2. Setahun kemudian penamaan ini diubah menjadi FA.2, sepertinya karena terlalu menyerupai skema penamaan Amerika.
Pesawat pertama FA. 2 Sea Harrier dikirim 2 April 1993. Dioperasikan pertama kali April 1994 sebagai bagian dari kekuatan PBB di Bosnia. FA.2 Sea Harrier terakhir dikirim 18 Januari 1999. Sebanyak FA2 Sea Harrier versi terkini yang beroperasi di AL Inggris rencananya akan digantikan dengan Joint Strike Fighter (JSF) yang masih dalam proses untuk masuk operasional.
Direncanakan Sea Harrier tetap beroperasi di lingkungan FAA (Fleet Air Arm) AL Inggris setidaknya hingga 2012. Harapannya, di tahun 2012 versi STOVL Lockheed Martin F-35 F-35 JSF sudah siap untuk menggantikan. Inggris termasuk kontributor besar dalam program JSF sehingga tak mengherankan jika Inggris berharap F-35 dapat menggantikan semua Harrier di FAA maupun AU Inggris.
Terlepas dari rencana tersebut, ternyata awal 2002 Menteri Pertahanan menyatakan bahwa penarikan dimulai 2004. Sea Harrier AL Inggris ditarik dari operasionalnya dua tahun kemudian. Sepertinya Inggris mencari pembeli sementara berharap sebagian di antaranya bisa masuk museum.
Rencananya sebelum JSF masuk FAA akan mengadopsi Harrier II generasi kedua AU Inggris, meski sebetulnya untuk kekuatan sementara pun sebetulnya pesawat ini kurang mumpuni. Terutama karena kekurangannya dalam hal kemampuan tempur udara ke udara jarak jauh.
Tahun 2005, setelah mencari dana selama beberapa tahun, AL India memulai program untuk memutakhirkan 14 Harrier Mk 51. Peningkatannya melibatkan kit Israel, termasuk radar multimode Elta EL/M-2032 rudal udara ke udara Rafael Derby BVR. Diharapkan AL India tertarik untuk membeli kelebihan FA.2 Sea Harrier sehingga pesawat-pesawat kebanggaan Inggris ini tidak berakhir sebagai rongsokan.
Sayangnya tawaran Inggris tidak termasuk komponen vital seperti rudal dan Blue Vixen fire control radar. Setelah melalui kajian teknikal dan finansial yang dilakukan oleh pilot AL India dan perwakilan Menteri Pertahanan, India memutuskan untuk tidak meneruskan niatnya membeli. Alasannya, pasca pembelian pesawat masih membutuhkan banyak biaya untuk meningkatkan avionik dan persenjataannya. Sebagai gantinya, India mempertimbangkan Bae Hawks atau Boeing/Bae Goshawk.
Maret 2006, seluruh Sea Harrier dipensiunkan. Beberapa di antaranya dipertahankan untuk digunakan oleh School of Flight Deck Operations di RNAS (Royal Naval Air Station) Culdrose. Teorinya, pesawat ini bisa diperbarui jika dibutuhkan. Sementara itu FAA AL Inggris terus mengoperasikan komponen lain dari Joint Force Harrier, Harrier GR7 dan Harrier GR9 yang sudah ditingkatkan bersama AU Inggris. Dua skadron utamanya, 800 NAS (Naval Air Squadron) ditugaskan kembali 6 April dan 801 NAS diharapkan untuk beroperasi lagi tahun 2007. Memasuki 2007, keduanya mengoperasikan GR9. Rencana pembe ian sekitar 150 F-35 nantinya akan dibagi antara kedua angkatan dan akan dioperasikan dari Royal Navy’s Future Carrier (CVF), (don)
General (Allgemeine Angaben)Crew (Besatzung): 1 on Martin-Baker Mk.10H zero-zero ejection seat
Weapons: No internal armament. Four wing and three underfuselage stations can carry weapons like:
4 x Raytheon AIM-120B ARAAM
4 x AIM-9 Sidewinder
2 x 30 mm Aden gun pods (150 rounds each)
500 kg free fall or retarded bombs (Freifallbomben oder Bomben mit Bremsmechanismus)
2 x Sea Eagle anti-ship missiles (Anti-Schiffs-Lenkwaffen von BAE)
Power plant (Antrieb)1 x Rolls-Royce Pegasus Mk 106 turbofan with swivelling nozzles
Thrust (Schub): 95,6 kN (21500 lbs)

Dimensions (Abmessungen)Length (Länge): 14,17 m
Length, nose cone folded (Länge mit beigeklappter Nase): 13,06 m
Height (Höhe): 3,61 m
Span (Spannweite): 7,70 m
Wing area (Flügelfläche): 18,7 sq m
Wheelbase (Radstand): ca. 3,45 m

Weights (Massen)Operating weight empty (Leermasse): 6616 kg
Max. payload (max. Nutzlast): 3855 kg
Max. external weapons laod (Waffenlast): 3629 kg
Max. fuel (Max. Kraftstoff): 2295 kg internal, up to 3000 litres external
Vertical take-off (Senkrechtsart): 7992 kg
Max. take-off weight (Max. Startmasse): 11 880 kg

Performance (Flugleistungen)Max. speed (max. Fluggeschwindigkeit): Mach 0.94 at sea level (1145 km/h, 618 kts)
Max. speed at high altitude (Geschwindigkeit in großer Höhe): Mach 0.97 (1070 km/h, 578 kts)
Cruise speed (Marschgeschwindigkeit): around 850 km/h at 10975 m
Combat air patrol: 1 h 30 min on station at 110 NM (185 km) from carrier
Surface attack mission radius: 200 NM (370 km) with two Sea Eagle missiles and 30 mm guns
g-Limits: +7,8/-4,2
Source :  http://topmdi.net
  
Read More >>

05 August 2011

Pesawat Tempur Phantom Ray



Pesawat Phantom Ray dari Boeing terbang selama 17 menit, di ketinggian 7.500 kaki, dan kecepatan 205 mil per jam.
 
Sistim Udara Tak Berawak atau UAS, telah dikembangkan sejak pertengahan 2008, dan uji penerbangan 27 April lalu adalah untuk melihat dasar kelayakan terbangnya.
 
Rencana selanjutnya adalah menerbangkan UAS ke ketinggian 40.000 kaki, di kecepatan yang hampir secepat suara.
 
Boeing menguji Phantom Ray dengan biaya sendiri, karena ia belum dikembangkan untuk misi khusus.
 
Menurut Boeing, pesawat ini akan berfungsi sebagai platform, untuk berbagai kasus seperti pengintaian atau serangan.
 
Pesawat yang mirip dengan Phantom Ray telah digunakan di Afganistan dan Pakistan.
Bentuk sayapnya yang unik memudahkannya untuk menghindari radar. Mesinnya ditanam sangat dalam, hampir tak bersuara dan tak berpanas, hingga sulit terdeteksi.



Pesawat ini dikendalikan lewat komputer oleh operator di darat, menentukan kemana ia harus terbang, mengeluarkan muatan, dan kapan harus kembali.
Dengan panjang 36 kaki dan sayap selebar 50 kaki, ia juga dapat mengisi bahan bakar selama penerbangan.




SPESIFIKASI
Values for X-45 marked with an *.


General characteristics
  • Crew: None (UCAV)
  • Length: 36 ft (11 m)
  • Wingspan: 50 ft (15 m)
  • Max takeoff weight: 36,500 lb (16,556 kg)
  • Powerplant: 1 × General Electric F404-GE-102D
Performance
  • Maximum speed: Mach 0.85
  • Cruise speed: 614 mph (534 kn; 988 km/h) ; Mach 0.8
  • Range: 1,500 mi (1,303 nmi; 2,414 km) *
  • Service ceiling: 40,000 ft (12,192 m) *

[edit]

Read More >>

04 August 2011

Dassault Rafale


Dassault Rafale
Dassault Rafale (dijuluki sebagai Squall dalam Bahasa Inggris) adalah pesawat tempur serbaguna generasi ke-4.5, bermesin dua, dan bersayap delta asal Perancis yang dibuat olehDassault Aviation. Rafale dirancang sebagai pesawat berpangkalan di daratan maupun di kapal induk.
Rafale adalah wujud dari program standardisasi ambisius Militer Perancis untuk visi 2025-2030, yakni sebagai pengganti lima pesawat yang bertugas di Angkatan Udara Perancis dan Angkatan Laut Perancis. Rafale dapat diperlengkapi dengan senjata nuklir. Selain untuk digunakan di negara asalnya, pesawat ini juga dijual untuk kebutuhan ekspor. Meskipun beberapa negara menyatakan minatnya untuk memiliki Rafale, namun belum ada nota resmi pemesanan lintas-negara yang disepakati.
Pada pertengahan dasawarsa 1970-an, Angkatan Udara Perancis (Armée de l'Air) dan Angkatan Laut Perancis (Aéronavale) memerlukan pesawat tempur pengganti. Pesawat yang perlu diganti adalah SEPECAT Jaguar di Angkatan Udara dan F-8 Crusader di Angkatan Laut. Ternyata persyaratan projek pengadaan pesawat yang diajukan oleh kedua angkatan itu cukup bersesuaian jika digabung. Pada tahun 1983, Perancis mengadakan kontrak dengan Dassault untuk pembuatan pesawat peraga Avion de Combat eXpérimental (ACX). Negara-negara Eropa, Jerman, Perancis, Italia, Spanyol, danBritania Raya sepakat untuk bersama-sama mengembangkan pesawat tempur baru pada awal dasawarsa 1980-an. Ketidaksetujuan terhadap ukuran pesawat dan kepemimpinan projek telah mengantarkan Perancis untuk mundur dari rencana itu pada tahun 1985.Perancis mengembangkan Rafale yang lebih kecil, sedangkan negara lainnya mengembangkan pesawat yang kemudian disebut Eurofighter Typhoon.
Purwarupa Dassault Rafale A
Peraga teknologi Rafale A selesai dibangun pada akhir tahun 1985 dan menjalani terbang perdananya pada 4 Juli 1986. Mesin SNECMA M88 yang baru saja dikembangkan ternyata dianggap kurang matang untuk program uji-coba perdana, sehingga pesawat peraga itu terbang menggunakan kipas turbo pascabakarGeneral Electric F404-GE-400 seperti yang digunakan pada F/A-18 Hornet. Pemesanan produksi dimulai pada tahun 1988.
Pengujian tahap berikutnya dilanjutkan, termasuk pendaratan touch-and-go (mendarat dan segera lepas landas kembali) di atas kapal induk dan uji-terbang mesin M88, sebelum Rafale A purnatugas pada tahun 1994. Meskipun Rafale A dan British Aerospace EAP adalah sebanding, ketika Eurofighter pertama terbang perdana pada bulan Maret 1994, Rafale pra-serial telah menjalani uji terbang selama tiga tahun, termasuk uji kapal induk; Rafale C01, Rafale M01, dan Rafale B01 masing-masing terbang perdana pada bulan Mei 1991, Desember 1991, dan April 1993.
Tiga jenis Rafale termasuk ke dalam pesanan produksi awal:
  • Rafale C (Chasseur) Pesawat tempur satu kursi untuk AdA (Armée de l'Air, Angkatan Udara Perancis)
  • Rafale B (Biplace) Pesawat tempur dua kursi untuk AdA
  • Rafale M (Marine) Pesawat tempur kapal induk satu kursi untuk Aéronavale
Purwarupa Rafale C terbang pada tahun 1991, kemudian yang pertama dari dua purwarupa Rafale M terbang pada tahun itu juga. Purwarupa Rafale B terbang pada awal tahun 1993, dan purwarupa Rafale M kedua terbang pada tahun yang sama. Uji ketapel pesawat mulanya diangkut antara 13 Juli dan 23 Agustus 1992 di Stasiun Rekayasa Udara Angkatan Laut Lakehurst di New Jersey, Amerika Serikat dan Stasiun Rekayasa Udara Angkatan Laut Sungai Patuxent di Maryland, Amerika Serikat, karena Perancis tidak memiliki fasilitas uji ketapel berbasis daratan. Pesawat itu kemudian menjalani pengujian di atas kapal induk FS Foch.
Rafale M Angkatan Laut Perancismempertunjukkan touch and go di kapal indukUSS John C. Stennis (CVN-74).
Mulanya, Rafale B hanya dimaksudkan sebagai pesawat latih, tetapi pengalaman Perang Teluk dan Perang Kosovo menunjukkan bahwa anggota kru kedua tidak begitu bermanfaat untuk misi pengintaian dan penyerangan, dan oleh karena itu Rafale B lebih banyak dipesan, menggantikan beberapa Rafale C. 60% dari pesawat ini memiliki dua kursi.Angkatan Laut menyelidiki versi angkatan laut dengan dua kursi. Tidak ada pesawat produksi ataupun purwarupa yang dibuat.
Ketakpastian ekonomi dan politik menyebabkan produksi Rafale M ditunda sampai tahun 1999.
Perancis diharapkan memesan 294 Rafale: 234 untuk Angkatan Udara dan 60 untuk Angkatan Laut. Kini, 120 Rafale telah dipesan secara resmi oleh Militer Perancis.Kesemuanya ini dikirimkan dalam tiga tahap yang berbeda, yang terbaru adalah pada pesanan bulan Desember 2004 sebanyak 59 pesawat.
Versi angkatan laut diprioritaskan untuk menggantikan pesawat F-8 Crussader yang lebih tua.Pengiriman dimulai pada tahun 2001 dan jenis ini "mulai bertugas" pada tanggal 4 Desember 2000, meskipun skuadron pertama, Flotille 12, tidak mengalami perombakan sebelum tanggal 18 Mei 2001. Pesawat ini dicadangkan di Kapal Induk Charles de Gaulle pada tahun 2002, dan beroperasi penuh sejak tanggal 25 Juni 2004, menyusul diperpanjangnya evaluasi operasional yang mencakup terbang pendamping terbatas dan misi tanker guna mendukung Operasi Enduring Freedom diAfghanistan.
Angkatan Udara Perancis menerima tiga pertama Rafale B (untuk standar F2) pada akhir Desember 2004. Mereka diberangkatkan ke Centre d'Expériences Aériennes Militaires (CEAM) di Mont-de-Marsan untuk evaluasi operasional dan pelatihan pilot konversi terkait.
Biaya program pengadaan 294 buah pesawat Rafale pada tahun 2005 adalah sebesar € 33,274 (termasuk rancangan, produksi, dukungan, dll.), tetapi pada tahun 2010 direvisi menjadi sebesar € 40,690 miliar. Taksiran biaya rata-rata Rafale (untuk semua versi) adalah € 142,3 juta per unit. Pelaksanaan undang-undang program militer (2003-2008) mengalami kekurangan dana sebesar € 11 miliar, atau setara dengan satu tahun program, berakibat pada melambatnya laju pelaksanaan sebagian besar program non-nuklir, contoh yang paling mencolok adalah bahwa tanggal penyerahan Rafale terakhir rencananya dijadwalkan untuk tahun 2010, tetapi kemudian diundur sampai tahun 2025.
Menurut Lembaga Audit Perancis, biaya dukungan pada bulan Desember 2004 adalah € 35.000 per jam terbang; sedangkan menurut Kementerian Pertahanan Perancis terdapat penurunan € 10.000 per jam terbang untuk Rafale Air dan € 7.000 untuk Rafale M pada 2010.
Keseluruhan biaya program, pada tahun 2008, adalah sekitar € 39,6 miliar yang berarti senilai € 138,5 juta per pesawat. Harga satuan pesawat laik terbang pada tahun 2008 adalah € 64 juta untuk versi C (Angkatan Udara), dan € 70 juta untuk versi Angkatan Laut.

Aerodinamika

Rafale berfiturkan sayap delta dipadukan dengan kanard aktif terintegrasi (dekat-berpasangan) untuk memaksimalkan kemampuan manuver (+9 g atau -3 g) sambil memelihara kestabilan terbang, nilai maksimum 11 g dapat diraih dalam keadaan darurat. Kanard juga mengurangi laju pendaratan hingga 115knot. Menurut sumber internal (Les essais en vol du Rafale) batas laju terendah adalah 100 kt tetapi 80 kt kadang-kadang diperagakan pada pameran dirgantara oleh pilot untuk mengungkapkan mutu laju rendah pesawat ini. "Batas minimum 15 kt dapat dicapai pada saat simulasi tempur melawanMirage 2000 oleh seorang pilot agresif." Pesawat ini dapat dioperasikan dari landas pacu yang hanya berpanjang 400 meter.


Sistem tempur

Komplemen senjata Rafale.
Rafale diperlengkapi dengan sistem pertahanan elektronik terintegrasi yang disebut Spectra yang menyediakan teknologi siluman virtual berbasis perangkat-lunak. Sensor terpenting yang dimiliki adalah radar RBE2 Passive Electronically Scanned Array buatan Thales Group. Thales mengaku sebagai pihak yang pertama mencapai tingkat kesadaran situasional melalui deteksi dini dan pelacakan multi-sasaran udara untuk pertempuran jarak dekat dan pencegatan berjelajah-jauh, juga penciptaan seketika peta lapangan tiga-dimensi di hadapan dan penciptaan seketika peta daratan beresolusi tinggi untuk navigasi dan penentuan sasaran.
Di dalam lingkungan ketika pengelolaan pengenalan diperlukan, Rafale dapat menggunakan beberapa sistem sensor pasif. Sistem optik-listrik bagian-depan atau Optronique Secteur Frontal (OSF), dikembangkan oleh Thales, secara utuh terintegrasi di dalam pesawat ini dan dapat beroperasi dalam panjang gelombang mata telanjang maupun infra merah.
Sistem perlindungan diri elektronik SPECTRA, yang dikembangkan oleh Thales dan EADS Perancis, memberi pesawat ini kemampuan tertinggi untuk bertahan melawan ancaman dari udara maupun daratan. Pranala data seketika memungkinkan komunikasi tidak hanya dengan pesawat lain, tetapi juga dengan komando bergerak, komando tetap, dan pusat kendali. Untuk misi-misi yang memerlukannya, Rafale sebenaranya juga akan menggunakan poda perancangan laser/optik-listrik Damoclès yang membawa kemampuan LGB sepanjang siang dan malam, meskipun Angkatan Udara Perancis berencana memperlengkapi Rafale dengan senjata standoff, sedangkan peran LGB diserahkan kepada Dassault Mirage 2000.
Sistem inti Rafale membekerjakan Avionik Modular Terintegrasi (IMA), yang disebut Satuan Pengolahan Data Modular (Modular Data Processing Unit), disingkat MDPU. Arsitektur ini menjadi tuan rumah bagi semua fungsi inti Rafale sebagai Sistem Pengelolaan Penerbangan, Fusi Data, Kendali Penembakan, Antarmuka Mesin-dan-Manusia, dll.[21]
Harga keseluruhan radar, komunikasi elektronik, dan perlengkapan perlindungan diri adalah sekira 30% biaya pembuatan pesawat.[22]
Kemampuan serang-darat Rafale dibatasi oleh kekurangan poda penentuan sasaran tingkat lanjut,tetapi ini akan diperbaiki dengan menambahkan poda penentuan sasaran Damocles dan pengintaian Reco NG/Areos buatan Thales Optronique pada standar F-3.[24]
Rafale B/C


Radar AESA
Radar Susunan Terpindai Elektronis Aktif AESA RBE2 AA buatan Thales digunakan untuk menggantikan Susunan Terpindai Pasif RBE2 yang terpasang. Thales mengirimkan radar baru itu pada bulan Agustus 2010 untuk digunakan pada tranche Rafale keempat. Seluruhnya ada 60 tranche, yang masing-masing tranche itu terdiri dari empat pesawat telah dipesan pada waktu itu. Skuadron pesawat yang diperlengkapi AESA ini diharapkan dapat dioperasionalkan pada tahun 2012. Thales juga mengaku bahwa radar AESA akan memperbaiki kemampuan operasional pesawat dalam hal jelajah, kemampuan mencegat, kemampuan membuntuti, dan penangkalan.


Kokpit
Kokpit menggunakan kursi pelontar Mark 16F "nol-nol" buatan Martin-Baker, yang mampu digunakan pada laju nol dan ketinggian nol. Kursi ini berkemiringan 29 derajat ke belakang untuk memperbaiki toleransi gaya G. Engsel kanopi dapat membuka ke sisi kanan. Sistem terintegrasi penghasil oksigen disediakan untuk menghilangkan kebutuhan banyak kotak oksigen.
Pada kokpit terdapat tampilan atas kepala (Head-Up Display, disingkat HUD), holografis bersudut lebar; dua tampilan serbaguna (Multi-Function Display, disingkat MFD), yang merunduk dan merupakan panel datar berwarna; dan tampilan collimated pusat. Antartindak pilot-dan-tampilan memanfaatkan sentuhan, dalam hal ini pilot menggunakan sarung tangan kulit berlapis sutera. Selain itu, dalam pengembangan sepenuhnya, pilot dilengkapi dengan tampilan melekat kepala (Head-Mounted Display, disingkat HMD).
Pilot menerbangkan pesawat ini dengan pengendali tongkat-samping yang terpasang di sisi kanannya dan katup penutup di sisi kanannya. Kokpit Rafale juga direncanakan untuk menyertakan Direct Voice Input (DVI), yang memungkinkan pilot memberikan perintah menggunakan suaranya.


Fitur pengabur radar
Meskipun bukan sebagai pesawat siluman sejati, menurut Dassault, Rafale mampu mengaburkan pengenalan radar, sementara sebagian besar fitur desain siluman diklasifikasi, penggunaan bahan komposit dan pola bergerigi di tepian sayap dan kanard berjejak berperan untuk mengurangi daya pindai radar.

Standar

Pengiriman perdana Rafale M bersesuaian dengan standar F1 ("France 1"). Ini artinya pesawat Rafale cocok untuk tujuan tempur udara-ke-udara, menggantikan F-8 Crusader yang sudah kadaluarsa sebagai pesawat tempur Angkatan Laut Perancis berbasis kapal induk, tetapi tidak diperlengkapi oleh, juga tidak dipersenjatai untuk operasi udara-ke-daratan. Pengiriman sebenarnya (kepada Flotille 11, pada suatu waktu setelah tahun 2007) adalah untuk memenuhi standar "F2", memberikan kemampuan udara-ke-daratan, dan menggantikan Dassault-Breguet Super Étendard dalam peran serang-darat dan Dassault Étendard IVP dalam peran pengintaian. Ini akan meninggalkan Rafale M hanya sebagai pesawat tempur bersayap kaku yang diterbangkan oleh Angkatan Laut Perancis, dan rencana untuk memperbaiki semua badan pesawat agar sesuai dengan standar "F3", dengan kemampuan nuklir dan radar 3D menjejaki kontur permukaan, dari permulaan dasawarsa setelah tahun 2010. Perbaruan ini dilakukan bagi 10 Rafale F-1 Angkatan Laut Perancis pada tahun 2010.
Rafale C pertama dikirimkan kepada Angkatan Udara Perancis, pada bulan Juni 2005, memenuhi standar "F2", dan telah ditindaklanjuti bahwa perbaruan pesawat milik Angkatan Laut Perancis juga akan dilakukan lagi di masa depan. Rafale menggantikan peran SEPECAT Jaguar, Mirage F1, dan Mirage 2000 di Angkatan Udara Perancis.

Perancis

Rafale M sedang mendarat di atas kapal induk.
Rafale kini sedang bertugas dalam peran percobaan dan pelatihan bersama Angkatan Udara Perancis (CEAM/EC 5/330), dan EC 1/7 di Saint-Dizier diharapkan menerima inti dari 8–10 Rafale F2 pada Musim Panas 2006, dan Rafale memasuki penugasan penuh (dengan kemampuan udara-ke-udara yang kuat dan ketepatan serang udara-ke-darat yang bagus) pada pertengahan tahun 2007 (ketika EC 1/7 akan memiliki kira-kira 20 pesawat, 15 berkursi dua dan 5 berkursi satu).[31] Pesawat ini telah berada dalam penugasan terbatas bersama Angkatan Laut Perancis (Flotille 12F) dalam peran udara-ke-udara, dan telah mengambil alih sejumlah besar percobaan udara-ke-darat dan upaya evaluasi.
Rafale M sepenuhnya kompatibel dengan kapal induk milik Angkatan Laut Amerika Serikat dan beberapa pilot Angkatan Laut Perancis lulus kualifikasi untuk menerbangkan pesawat ini dari dek penerbangan Angkatan Laut Amerika Serikat.
Rafale yang pertama ditugaskan di daerah peperangan ketika Angkatan Laut Perancis menjalani Opération Héraclès, yakni keikutsertaan Perancis di dalam Operation Enduring Freedom. Mereka terbang dari kapal induk Charles de Gaulle di atas Afghanistan sejak tahun 2002, tetapi standar F1 menghindari misi udara-ke-darat dan Rafale tidak menjalani aksi apapun.
Pada bulan June 2002, ketika kapal induk Charles de Gaulle berada di Laut Arab, pesawat Rafale yang dipersenjatai ikut serta dalam patroli antar-posisi di dekat perbatasan India-Pakistan, menjadi tanda penting karir operasional Rafale M dan integrasinya bersama kapal induk itu.
Pada tahun 2007, setelah suatu perbaikan "crash program", enam Rafale diberi kemampuan untuk dapat menjatuhkan bom terpandu-laser, sebagai hasil evaluasi kinerja mereka di Afghanistan. Tiga dari pesawat-pesawat ini menjadi milik Angkatan Udara ditugaskan ke Dushanbe di Tajikistan, sedangkan tiga sisanya adalah Rafale Marines milik Angkatan Laut disiagakan di kapal induk Charles De Gaulle. Misi pertama berjalan pada tanggal 12 Maret 2007, dan GBU-12 pertama diluncurkan pada tanggal 28 Maret untuk mendukung serdadu Belanda yang bertugas di Afghanistan Selatan, menandai debut operasional Rafale. Mereka masih bergantung pada Mirage 2000Ds dan Super Étendards yang membawa poda penentu sasaran berbantuan laser untuk mendesain sasaran mereka.
Rafale direncanakan untuk menjadi pesawat tempur utama Angkatan Udara Perancis hingga tahun 2040 atau lebih lama lagi.
Pada bulan November 2009, Pemerintah Perancis memesan 60 pesawat lagi untuk melengkapi keseluruhan pesanan Angkatan Udara dan Angkatan Laut Perancis sebanyak 180 pesawat.
Pada tanggal 4 Juni 2010, sebuah Rafale milik Perancis menjadi pesawat jet tempur pertama milik angkatan laut asing yang menjalani penggantian mesinnya di atas kapal induk milik Amerika Serikat, pada saat latihan bersama kapal induk USS Harry S. Truman (CVN-75).

Ekspor

Beberapa negara telah menunjukkan minatnya untuk membeli Rafale. Rafale adalah salah satu dari enam jet tempur yang berkompetisi di dalam upaya memenangi pengadaan 126 pesawat tempur serbaguna untuk India. Kompetisi ini dinamai Indian Air Force Medium Multi-Role Combat Aircraft Competition (Kompetisi Pesawat Tempur Serbaguna ukuran Sedang untuk Angkatan Udara India). Pada bulan April 2009, terdapat laporan berita yang menyatakan bahwa Rafale tidak lolos kompetisi karena tidak memenuhi persyaratan minimum Angkatan Udara India. dan bahwa pesawat kompetitor lainnya, yaitu Mikoyan MiG-35, General Dynamics F-16 Fighting Falcon, Boeing F/A-18E/F Super Hornet, JAS 39 Gripen, dan Eurofighter Typhoon, lolos untuk putaran penilaian berikutnya. Kementerian Pertahanan India membantah laporan ini; seorang juru bicara Angkatan Udara India menyatakan, "kami tidak mencoret peserta manapun di dalam kompetisi MMRCA ini".[43] Laporan itu menyatakan bahwa Rafale dan Typhoon memasuki tahap akhir kompetisi.[44]
Pada bulan Januari 2006, surat kabar Perancis Journal du Dimanche melaporkan bahwa Libya ingin memesan 13–18 Rafale "senilai $ 3,24 miliar".[45]Pada bulan Desember 2007, Saif al-Islam Gaddafi secara terbuka menyatakan bahwa Libya berminat terhadap Rafale.[46] Yunani juga mengungkapkan minatnya terhadap pesawat tempur Perancis ini, mungkin untuk dapat dipertukarkan dengan Mirage.[47]
Pada tahun 2006 Angkatan Laut Britania Raya memandang Rafale sebagai alternatif bagi F-35 JSF meskipun akhirnya lebih memilih F-35.[48][49]Bagaimanapun kapal induk Britania Raya akan dimodifikasi supaya mampu mengoperasikan Rafale.
Pada bulan Februari 2007, dilaporkan bahwa Swiss memperhatikan Rafale dan pesawat tempur lainnya untuk menggantikan F-5 Tiger II miliknya.Evaluasi yang berjalan selama sebulan sejak Oktober 2008 di Pangkalan Udara Emmen melibatkan kira-kira 30 pesawat tempur. Rafale, Gripen, dan Eurofighter sama-sama dievaluasi.
Pada bulan September 2007, La Tribune melaporkan bahwa penjualan ke Maroko mengalami kegagalan, pemerintah Maroko lebih memilih F-16.Pada bulan Oktober 2007, laporan La Tribune yang lebih lama menyatakan bahwa Rafale tidak akan dibeli.
Pada bulan Januari 2008, harian O Estado de São Paulo melaporkan bahwa Menteri Pertahanan Brasil mengunjungi Perancis untuk membahas kemungkinan mendapatkan Rafale untuk program F-X2. Pada bulan Juni 2008, Angkatan Udara Brasil mengumumkan Permintaan Informasi untuk perusahaan-perusahaan pesawat tempur dan produk mereka: Boeing F/A-18E/F Super Hornet dan Lockheed Martin F-35 Lightning II, Dassault Rafale,Sukhoi Su-35, Saab Gripen NG dan Eurofighter Typhoon.[55] Pada bulan Oktober 2008, dilaporkan bahwa Angkatan Udara Brasil telah memilih tiga finalis F-X2; Dassault Rafale, Saab Gripen NG, dan Boeing F/A-18E/F.[56] Pada tanggal 7 September 2009, selama kunjungan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, Brasil membuat pakta dengan Perancis dan bahwa mereka sepakat bernegosiasi tentang pengadaan 36 Rafale.[57] Kegagalan terbang dua Rafale di Timur-Tengah di wilayah udara Perpignan pada tanggal 24 September 2009 setelah tabrakan di udara, telah menjadi waktu yang buruk bagi negosiasi Brasil-Perancis.[58] Pada tanggal 5 Januari 2010, media melaporkan bahwa laporan evaluasi terakhir oleh Angkatan Udara Brasil menempatkan Gripen berada di atas dua saingannya. Faktor yang menentukan tampaknya berada pada keseluruhan biaya pesawat baru, apakah itu dana pembelian, pengoperasian, maupun pemeliharaan.Beberapa sumber mengatakan bahwa Rafale dipilih oleh Kementerian Pertahanan,[61]tetapi tidak ada konfirmasi lanjutan.
Pada bulan Februari 2009, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy menyatakan bahwa Kuwait ingin membeli 28 Rafale, tetapi tidak dilanjutkan pada tahap pemesanan. Pada bulan yang sama, Perancis menawarkan Rafale ke Oman untuk menggantikan pesawat lawasnya, SEPECAT Jaguar. Tetapi pada tahun 2010, Oman lebih memilih untuk memesan Eurofighter Typhoon.
Uni Emirat Arab berminat akan satu versi Rafale yang akan diperbarui dengan mesin dan radar yang lebih kuat, juga peluru kendali udara-ke-udara yang lebih cerdas.[64] Mereka kini mulai mempelajari kemungkinan pembelian Boeing F/A-18E/F Super Hornet. Dilaporkan sedemikian karena Menteri Pertahanan Perancis, Hervé Morin meminta UEA untuk membayarkan 2 miliar Euro dari keseluruhan dana perbaruan Rafale untuk menyesuaikannya dengan kemajuan Super Hornet.
Surat kawat Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat yang bocor mengatakan bahwa "Duta Perancis berupaya memuntir kinerja Rafale yang buruk di pasar global sebagai akibat dari tekanan politik Pemerintah Amerika Serikat, lebih dari sekadar kecacatan pesawat itu".
VARIAN
Rafale A
Pesawat peraga teknologi, terbang perdana pada tahun 1986. Kini tidak lagi beroperasi.
Rafale D
Dassault menggunakan pesawat ini (D untuk diskret atau siluman) pada permulaan dasawarsa 1990-an untuk versi produksi bagi Angkatan Udara Perancis, untuk memperjelas fitur semi-siluman yang baru disertakan ke dalam pesawat ini.
Rafale B
Ini adalah versi dua kursi bagi Angkatan Udara Perancis; diserahkan kepada EC 330 pada tahun 2004.
Rafale C
Ini adalah versi satu kursi bagi Angkatan Udara Perancis; diserahkan kepada EC 330 pada bulan Juni 2004.
Rafale M
Ini adalah versi untuk dapat mendarat di kapal induk bagi Angkatan Laut Perancis, mulai bertugas pada tahun 2002. Rafale M berbobot sekira 500 kg lebih berat daripada Rafale C. Sangat menyamai Rafale C dalam tampilannya, M berbeda dalam hal-hal berikut ini:
  • Diperkokoh agar dapat stabil berkedudukan di atas kapal induk
  • Gir pendaratan yang lebih kuat
  • Lengan gir moncong yang lebih panjang untuk memberikan perilaku mendongak yang lebih baik untuk dapat diluncurkan menggunakan ketapel
  • Pilon tengah-depan dibuang (untuk memberi ruang untuk gir yang lebih panjang)
  • Tailhook yang lebih lebar antara dua mesin
  • Tangga pendaratan dengan daya terintegrasi
  • Sistem pendaratan gelombang mikro Kapal Induk
  • Platform referensi kelembaman "Telemir" yang dapat menerima perbaruan dari sistem kapal induk.
Rafale N
Rafale N, mulanya disebut Rafale BM, direncanakan berupa versu dua kursi untuk Angkatan Laut Perancis. Pengurangan anggaran dan biaya tambahan pelatihan kru telah menjadi penyebab pembatalan pengadaan jenis ini.

SPESIFIKASI
Karakteristik umum
  • Kru: 1–2
  • Panjang: 15,27 m
  • Lebar sayap: 10,80 m
  • Tinggi: 5,34 m
  • Luas sayap: 45,7 m²
  • Bobot kosong: 9.500 kg (C), 9.770 kg (B), 10.196 kg (M)
  • Bobot maksimum lepas landas: 24.500 kg (C/D), 22.200 kg (M)
  • Mesin: 2× Snecma M88-2 mesin turbofan
    • Dorongan kering: 50,04 kN masing-masing
    • Dorongan dengan pembakar lanjut: 75,62 kN dengan M88-Eco (>90 kN setelah tahun 2010) masing-masing

Kinerja

  • Laju maksimum:
    • Ketinggian tinggi: 2.390 km/jam
    • Ketinggian rendah: 1.390 km/jam
  • Jarak jangkau: 3.700+ km
  • Radius tempur: 1.852+ km pada misi penetrasi
  • Batas tertinggi servis: 16.800 m
  • Laju panjat: 304,8+ m/s
  • Beban sayap: 326 kg/m²
  • Dorongan/berat: 1,13

Persenjataan

  • Senjata api: 1× 30 mm (1,18 inci) GIAT 30/719B cannon dengan 125 bulatan
  • Titik keras: 14 untuk Angkatan Udara Perancis (Rafale B,C), 13 untuk Angkatan Laut Perancis (Rafale M) dengan kapasitas 9.500 kg bahan bakar eksternal dan persenjataan,
  • Rudal:
    • Udara-ke-udara:
      • MICA IR/EM atau
      • Magic II dan di masa depan
      • MBDA Meteor
    • Udara-ke-tanah:
      • MBDA Apache atau
      • SCALP EG atau
      • AASM atau
      • GBU-12 Paveway II atau
      • AM 39 Exocet atau
      • Rudal nuklir ASMP-A
  • Lainnya:
    • Poda penentu sasaran Thales Damocles
    • Poda pengintaian RECO NG
    • sampai 5 drop tangki
    • Rafale dapat juga memuat poda pengisian bahan bakar Rafale-ke-Rafale

Avionik

  • Radar Thales RBE2
  • Sistem peperangan elektronik Thales SPECTRA.
  • Sistem pencarian dan pelacakan infra merah Thales/SAGEM OSF (Optronique Secteur Frontal).


Read More >>